MetroJakartaNews.Id - Target retribusi Gelanggang Jakarta Barat (GJB) mencapai Rp3,5 miliar per tahun, namun kondisi rumput Lapangan Sepak Bola Cendrawasih, Cengkareng, Jakarta Barat, justru memprihatinkan.
Kondisi ini menempatkan pengelolaan fasilitas olahraga milik pemerintah dalam sorotan. Sebab, keberhasilan mengejar target retribusi tidak cukup diukur dari besarnya penerimaan, tetapi juga dari kemampuan pengelola menjaga kualitas aset publik dan memastikan masyarakat memperoleh fasilitas yang layak.
Baca Juga:
Lapangan Cendrawasih Gersang dan Berdebu, Pengamat dan Warga Pertanyakan Anggaran Perawatan
Pertanyaan mendasarnya sederhana: ketika fasilitas olahraga menjadi sumber penerimaan daerah, bagaimana kebutuhan perawatannya dipenuhi?
Berapa anggaran yang dialokasikan untuk Lapangan Cendrawasih? Berapa yang sudah dibelanjakan untuk pemeliharaan? Dan kapan masyarakat dapat melihat perbaikan nyata pada kondisi rumput lapangan tersebut?
Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) Gelanggang Jakarta Barat, Vicky, mengakui kondisi rumput lapangan membutuhkan perhatian.
Baca Juga:
Retribusi Tahura Sumedang Lampaui Target, Capai Rp. 115,38 Juta di 2025
Ia berharap peningkatan fasilitas olahraga di Jakarta dapat direalisasikan agar masyarakat memperoleh sarana yang memadai.
“Harapannya sama dengan harapan masyarakat, artinya fasilitas yang ada bisa bermanfaat dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat,” ujar Vicky kepada MetroJakartaNews.Id di Lapangan Cendrawasih, Jumat (23/10/2026).
Vicky menilai kondisi rumput menjadi bagian penting dari kualitas lapangan sepak bola. Rumput yang terawat tidak hanya menunjang penampilan fasilitas, tetapi juga memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang menggunakannya untuk berolahraga.