Tohom menilai integrasi tersebut juga mempunyai dampak ekonomi karena konektivitas transportasi yang baik akan memperbesar akses masyarakat terhadap lapangan pekerjaan sekaligus memungkinkan aktivitas ekonomi tidak terus terkonsentrasi di pusat Jakarta.
“Aglomerasi yang sehat bukan membuat semua orang datang ke Jakarta, tetapi membuat seluruh wilayah Jabodetabekjur terhubung sehingga pusat pertumbuhan ekonomi baru dapat berkembang di berbagai titik,” tutur Tohom.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Transportasi Rendah Emisi Jadi Fondasi Aglomerasi Jabodetabekjur
Dalam kerangka tersebut, menurut Tohom, pembangunan transportasi harus berjalan bersama penataan ruang agar permukiman baru, kawasan industri, pusat perdagangan dan kawasan komersial berkembang mengikuti koridor angkutan massal.
Ia berpandangan TOD seperti Blok M Hub dan Dukuh Atas dapat menjadi referensi untuk membangun simpul-simpul serupa di kawasan penyangga dengan karakter dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Pemprov DKI Jakarta juga mempercepat elektrifikasi transportasi publik dengan mengoperasikan sekitar 500 bus listrik yang ditargetkan meningkat menjadi 10.047 unit pada 2030 sehingga seluruh armada TransJakarta dapat terelektrifikasi.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung Digitalisasi PLN UID Kalbar, Revitalisasi SCADA Perkuat Keandalan Jaringan
Tohom menilai elektrifikasi armada akan memberikan dampak lebih luas apabila perluasan bus rendah emisi juga menjangkau koridor lintas daerah sehingga manfaat penurunan emisi dapat dirasakan dalam skala kawasan metropolitan.
“Jangan sampai ada pulau transportasi hijau bernama Jakarta tetapi perjalanan menuju Jakarta masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi berbahan bakar fosil karena yang harus dibangun adalah ekosistem mobilitas hijau Jabodetabekjur,” ujar Tohom.
Selain elektrifikasi bus, pengembangan jaringan berbasis rel melalui MRT, LRT dan KRL dinilai perlu memiliki visi jangka panjang untuk menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan di seluruh kawasan aglomerasi.