Pramono menyebut Jakarta membutuhkan sistem mobilitas yang mampu memperluas akses, meningkatkan produktivitas, menurunkan emisi dan menghubungkan kawasan metropolitan sebagai satu kesatuan ekonomi melalui transformasi mobilitas rendah karbon.
Pemprov DKI Jakarta menargetkan pangsa transportasi publik mencapai 55 persen pada 2045 dengan mengembangkan Pull Strategy untuk meningkatkan daya tarik angkutan umum serta Push Strategy untuk mengendalikan penggunaan kendaraan pribadi.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Transportasi Rendah Emisi Jadi Fondasi Aglomerasi Jabodetabekjur
Pull Strategy tersebut meliputi ekspansi Transjabodetabek, MRT dan LRT, transportasi gratis bagi 15 golongan masyarakat, pengembangan Transit-Oriented Development (TOD) dan Park and Ride, serta peningkatan fasilitas pedestrian, jalur sepeda dan transportasi air.
Sementara itu, Push Strategy mencakup ganjil-genap, disinsentif parkir bagi kendaraan yang tidak lulus uji emisi, Low Emission Zone hingga Electronic Road Pricing.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa kebijakan tersebut perlu dikembangkan menjadi strategi transportasi Jabodetabekjur agar masyarakat dari kawasan penyangga mempunyai pilihan transportasi massal yang kompetitif sebelum memasuki wilayah Jakarta.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung Digitalisasi PLN UID Kalbar, Revitalisasi SCADA Perkuat Keandalan Jaringan
“Kalau masyarakat Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Cianjur masih harus membawa kendaraan pribadi untuk menuju Jakarta, maka tekanan lalu lintas dan emisi tetap akan masuk ke Ibu Kota meskipun transportasi di dalam Jakarta semakin baik,” kata Tohom.
Menurutnya, konsep Park and Ride, TOD dan simpul transportasi massal justru mempunyai peran strategis apabila diperluas ke titik-titik asal perjalanan di kawasan aglomerasi sehingga perpindahan dari kendaraan pribadi menuju angkutan umum dapat dilakukan sebelum masyarakat memasuki pusat Jakarta.
Ia memandang ekspansi Transjabodetabek harus ditempatkan bersama jaringan KRL, MRT, LRT dan moda pengumpan daerah sebagai satu ekosistem mobilitas yang saling terhubung dari sisi rute, jadwal, pembayaran dan simpul perpindahan penumpang.