Ia mengatakan, keterlibatan ALPERKLINAS di forum internasional menjadi bagian dari upaya membawa perspektif konsumen Indonesia ke dalam pembahasan keselamatan listrik global.
Selain melalui Fisuel Internasional, ALPERKLINAS juga aktif membawa perspektif konsumen dalam forum ISO Committee on Consumer Policy atau ISO COPOLCO yang membahas kebijakan standardisasi internasional dari sudut pandang perlindungan konsumen.
Baca Juga:
PLN Watch Ucapkan Selamat kepada Direksi dan Komisaris Baru PLN, Tekankan Visi Besar Ketahanan Energi Nasional
Tohom mengatakan, pengalaman ALPERKLINAS dalam ISO COPOLCO memperkuat keyakinan bahwa standar tidak boleh dipandang sekadar sebagai dokumen teknis, tetapi sebagai instrumen penting untuk menjamin keselamatan, kualitas layanan, transparansi, dan perlindungan masyarakat.
Menurutnya, relevansi ISO COPOLCO dengan sektor kelistrikan sangat kuat karena pembangunan standar global harus selalu menempatkan kepentingan konsumen sebagai salah satu fondasi utama.
Ia juga menyinggung pentingnya perhatian terhadap standar yang dikembangkan dalam lingkup IEC atau International Electrotechnical Commission, lembaga standardisasi internasional yang menjadi rujukan penting dalam bidang elektroteknika, sistem kelistrikan, peralatan listrik, keselamatan instalasi, dan keandalan infrastruktur energi.
Baca Juga:
PLN Watch Ucapkan Selamat Bekerja, Dorong Direksi dan Komisaris Baru Perkuat Transformasi PLN
Menurut Tohom, agenda standardisasi di IEC sangat relevan bagi PLN karena menyangkut kualitas material, keamanan peralatan, sistem proteksi, instalasi, konstruksi jaringan, hingga ketahanan sistem kelistrikan terhadap gangguan.
“ISO COPOLCO memberi perspektif penting tentang perlindungan konsumen dalam standardisasi, sementara IEC menjadi rujukan penting dalam standar elektroteknika dan kelistrikan. Keduanya sangat relevan bagi Indonesia untuk membangun sistem listrik yang aman, andal, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat,” ujar Tohom.
Tohom menilai pengalaman ALPERKLINAS dalam forum standardisasi internasional tersebut perlu menjadi dorongan bagi penguatan budaya standardisasi kelistrikan nasional.