“Kalau hanya ikan dewasa yang diambil sementara telurnya dibiarkan, populasinya akan cepat kembali. Karena itu kita kejar sampai ke telurnya,” tegasnya.
Di lapangan, petugas menghadapi tantangan tersendiri. Ikan sapu-sapu kerap bersembunyi di lumpur dan celah turap. Untuk mengatasinya, dilakukan penyurutan debit air agar ikan lebih mudah terlihat. Alat sederhana seperti bambu juga dimanfaatkan untuk mengeluarkan ikan dari persembunyiannya.
Baca Juga:
Menuju Kota Global: Penguatan Kualitas SDM Jadi Syarat Pembangunan Jakarta!
Arifin turut menekankan pentingnya penanganan pasca-penangkapan. Ikan yang tertangkap harus dimatikan dan dikubur di lokasi yang telah ditentukan dengan pengawasan ketat guna mencegah penyalahgunaan, termasuk dijual kembali untuk konsumsi.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu. Berdasarkan kajian, ikan tersebut berpotensi mengandung zat berbahaya seperti bakteri dan logam berat karena hidup di perairan tercemar.
“Ini (ikan Sapu-sapu/red) bukan untuk dikonsumsi. Kita harus waspada karena bisa membahayakan kesehatan,” katanya.
Baca Juga:
Siti Aisyah Usulkan Perlindungan Masyarakat dalam Sengketa Kawasan Hutan: "Kesalahan Administrasi Negara Jangan Berubah Menjadi Kesalahan Pidana Rakyat"
Ke depan, Pemkot Jakpus akan fokus pada peningkatan kualitas air sungai melalui pengurangan limbah. Arifin berharap, dengan lingkungan yang lebih bersih dan pengendalian spesies invasif, habitat ikan lokal dapat pulih secara bertahap.
“Bukan hanya tugas pemerintah. Semua pihak harus terlibat menjaga kebersihan sungai agar ekosistem tetap sehat dan seimbang,” tutupnya.
[Editor : Sahala Pangaribuan]