METROJAKARTANEWS.ID, Jakarta | Wali Kota Jakarta Pusat (Jakpus) Arifin, turun langsung memimpin aksi penangkapan ikan sapu-sapu di saluran air kawasan Plaza Indonesia, Jumat (17/4/2026).
Langkah ini menjadi sinyal kuat keseriusan pemerintah dalam menekan laju spesies invasif yang mengancam keseimbangan ekosistem perairan ibu kota.
Baca Juga:
Polusi Udara Tinggi, Jakarta Masuk 5 Terburuk Nasional
Dalam kegiatan, Arifin didampingi Wakil Wali Kota Eric Phahlevi ZL, Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asekbang) Suprayogi, Camat Menteng Nurhelmi Savitri, serta Camat Tanah Abang Dwiarti Indriani Utami.
Arifin menegaskan, pengendalian populasi ikan sapu-sapu akan terus diperluas dan diperkuat. Ia menyebut, dominasi ikan ini telah menekan keberlangsungan hidup ikan lokal.
“Ikan sapu-sapu memiliki daya tahan tinggi di air tercemar dan memangsa telur ikan lain. Akibatnya, populasi ikan lokal seperti mujair, lele, dan betok terus menurun. Kalau tidak dikendalikan, ekosistem kita bisa semakin rusak,” ujarnya.
Baca Juga:
Urbanisasi Meledak Usai Lebaran, 1.776 Pendatang Baru Masuk Jakarta
Sebagai langkah konkret, Pemkot Jakpus mengintensifkan operasi penangkapan secara rutin, termasuk setiap Jumat pagi. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari petugas teknis, pasukan kebersihan, hingga komunitas peduli lingkungan.
Sedikitnya delapan kecamatan bergerak serentak di sejumlah titik aliran sungai, seperti kawasan sekitar Masjid Istiqlal dan Kali Ciliwung.
Tak hanya menyasar ikan dewasa, petugas juga membersihkan telur-telur ikan sapu-sapu yang menempel di dinding turap maupun dasar sungai. Menurut Arifin, langkah ini penting agar pengendalian populasi tidak bersifat sementara.
“Kalau hanya ikan dewasa yang diambil sementara telurnya dibiarkan, populasinya akan cepat kembali. Karena itu kita kejar sampai ke telurnya,” tegasnya.
Di lapangan, petugas menghadapi tantangan tersendiri. Ikan sapu-sapu kerap bersembunyi di lumpur dan celah turap. Untuk mengatasinya, dilakukan penyurutan debit air agar ikan lebih mudah terlihat. Alat sederhana seperti bambu juga dimanfaatkan untuk mengeluarkan ikan dari persembunyiannya.
Arifin turut menekankan pentingnya penanganan pasca-penangkapan. Ikan yang tertangkap harus dimatikan dan dikubur di lokasi yang telah ditentukan dengan pengawasan ketat guna mencegah penyalahgunaan, termasuk dijual kembali untuk konsumsi.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu. Berdasarkan kajian, ikan tersebut berpotensi mengandung zat berbahaya seperti bakteri dan logam berat karena hidup di perairan tercemar.
“Ini (ikan Sapu-sapu/red) bukan untuk dikonsumsi. Kita harus waspada karena bisa membahayakan kesehatan,” katanya.
Ke depan, Pemkot Jakpus akan fokus pada peningkatan kualitas air sungai melalui pengurangan limbah. Arifin berharap, dengan lingkungan yang lebih bersih dan pengendalian spesies invasif, habitat ikan lokal dapat pulih secara bertahap.
“Bukan hanya tugas pemerintah. Semua pihak harus terlibat menjaga kebersihan sungai agar ekosistem tetap sehat dan seimbang,” tutupnya.
[Editor : Sahala Pangaribuan]