Perbedaan lain juga terlihat pada susunan kuda-kuda pipa besi dan gording berukuran 3 inci yang berfungsi sebagai dudukan rangka atap berbahan besi hollow.
Pada JPO Ciracas, bentangan gording terlihat menggunakan empat baris. Sementara itu, pada JPO Pejaten, susunan yang terlihat di lapangan menggunakan tiga baris dengan pola sambungan potong.
Baca Juga:
Kali Jakarta Meluap 115 RT Terendam Banjir
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan gambar rencana dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dalam kontrak.
Untuk memastikan apakah perbedaan tersebut merupakan bagian dari desain yang memang direncanakan atau perubahan saat pelaksanaan, diperlukan pemeriksaan terhadap dokumen kontrak, gambar rencana, gambar pelaksanaan (shop drawing), serta berita acara persetujuan perubahan pekerjaan apabila ada.
Direktur Eksekutif Total Info dan Statistik, Saut, S.T., turut memberikan tanggapan mengenai perbedaan konstruksi tersebut.
Baca Juga:
Diduga Mark Up, Revitalisasi JPO Ujung Menteng Telan Anggaran Rp1,6 Miliar
Saut menduga terdapat perubahan pada material tiang rangka atap JPO Pejaten dari baja profil WF 250 menjadi besi pipa. Menurut dia, dugaan perubahan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut, termasuk kaitannya dengan perhitungan volume material baja dalam pekerjaan.
"Ada dugaan perubahan tiang rangka atap dari baja WF 250 ke besi pipa sengaja dilakukan diduga untuk mengelabui kelebihan volume baja keseluruhan yang dipergunakan. Kelebihan volume baja tersebut diperkirakan mencapai 10 ton," ujar Saut.
Ia memperkirakan, apabila selisih volume material tersebut benar-benar mencapai 10 ton dan menggunakan asumsi harga Rp 43.000 per kilogram, nilai materialnya dapat mencapai Rp 430 juta.