MetroJakartaNews.Id - Kondisi lapangan sepak bola Cendrawasih di Jakarta Barat yang gersang, berdebu, dan nyaris tanpa rumput menuai sorotan pengamat kebijakan publik dan masyarakat.
Selain mengganggu kenyamanan bermain, kondisi lapangan yang tidak rata juga dinilai meningkatkan risiko cedera bagi para pemain.
Baca Juga:
Pemuda Batak Bersatu Jakbar Dukung Lambok Sihombing Kembali Jadi Ketum 2025-2030
Pengamat Kebijakan Publik Ronal Sihotang mempertanyakan pengelolaan anggaran perawatan lapangan tersebut. Terlebih, masyarakat yang menggunakan fasilitas olahraga itu harus membayar biaya penggunaan maupun parkir.
“Kalau ada pemasukan dari retribusi, tentu masyarakat berhak mempertanyakan bagaimana pengelolaannya. Jangan sampai pemasukan ada, tetapi perawatannya tidak berjalan,” kata Ronal kepada wartawan di Cengkareng, Jakarta Barat, Senin (19/10/2026).
Menurut Ronal, penerimaan dari pemanfaatan fasilitas olahraga semestinya diimbangi dengan pemeliharaan yang memadai. Dengan begitu, masyarakat dapat menggunakan fasilitas milik pemerintah daerah secara aman dan nyaman.
Baca Juga:
Pemuda Batak Bersatu Jakarta Barat Berbagi Takjil untuk Pengemudi Ojol
Ia juga menyoroti kondisi bangunan di kawasan lapangan Cendrawasih yang dinilai membutuhkan perhatian.
Selain itu, ia menyinggung rencana revitalisasi yang sempat mengemuka setelah Gubernur DKI Jakarta meninjau lokasi pada tahun lalu, tetapi menurutnya belum terealisasi karena persoalan anggaran.
Ronal menegaskan, fasilitas olahraga milik pemerintah daerah harus dapat diakses dan dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya klub profesional.
“Fasilitas olahraga seharusnya menjadi tempat masyarakat menjaga kesehatan, bukan malah menimbulkan risiko karena kondisinya tidak terawat,” tegasnya.
Ia mendesak dinas terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera mengevaluasi pengelolaan dan pemeliharaan lapangan-lapangan olahraga di Jakarta Barat. Menurutnya, ketersediaan anggaran perawatan harus menjadi perhatian agar fasilitas publik dapat berfungsi secara optimal dan berkelanjutan.
“Harapan kami, dinas terkait segera turun tangan. Lapangan olahraga harus dirawat dengan baik agar masyarakat bisa berolahraga dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Pemain Keluhkan Kondisi Lapangan
Keluhan serupa disampaikan Herman, warga Sumur Bor yang dua kali seminggu bermain sepak bola bersama komunitasnya di lapangan Cendrawasih.
Ia mengaku prihatin melihat kondisi lapangan yang minim rumput dan dipenuhi debu.
Menurut Herman, permukaan lapangan yang tidak rata membuat pemain kesulitan mengembangkan permainan. Operan bola yang seharusnya dapat diterima dengan baik justru kerap melenting karena kondisi permukaan tanah yang tidak rata.
“Lapangan berdebu dan minim rumputnya. Setiap bermain kesulitan mengembangkan permainan. Ketika passing bola, harapannya bisa sampai dan dikontrol dengan baik, tapi justru melenting karena permukaan tidak rata,” kata Herman.
Ia menambahkan, kondisi lapangan tersebut berpotensi meningkatkan risiko cedera.
Pemain bisa kehilangan keseimbangan dan terjatuh saat berlari maupun mengolah bola.
Herman juga mempertanyakan pemeliharaan lapangan karena para pengguna tetap dikenakan biaya untuk bermain dan membayar parkir.
“Ke mana uang itu semua? Kenapa tidak ada biaya perawatan? Lama-lama masyarakat jadi malas berolahraga di sini karena kondisinya sangat memprihatinkan,” pungkasnya.
Kondisi lapangan Cendrawasih tersebut menjadi perhatian bagi pengelola dan pemerintah daerah untuk mengevaluasi pemeliharaan fasilitas olahraga publik.
Perawatan yang memadai diperlukan agar lapangan dapat digunakan masyarakat secara aman, nyaman, dan berkelanjutan.