MetroJakartaNews.Id - Kenyataan pahit harus dIterima oleh pengguna akun @heryanfygunawan.
Demi memboyong sebuah listrik Geely EX2 sebagai mobil utama keluarga, ia bahkan rela melego mobil lamanya untuk menutup uang muka.
Baca Juga:
Baru 12 Menit Sudah 'Dikeroyok' 10 Ribu Pesanan! Ini Dia Kehebatan SUV Baru Geely
Sayangnya, impian menikmati teknologi ramah lingkungan justru berubah menjadi rentetan drama dan kekecewaan mendalam akibat mobil baru Geely miliknya bermasalah.
"Pertimbangan awal semata-mata untuk efisiensi dan kenyamanan, namun ternyata di balik kecanggihan sebuah produk mobil listrik, ada resiko lain yang dapat terjadi diawal pemakaian.. kejadian seperti ini mungkin tidak banyak," tukis akun tersebut yang dilihat Rabu (21/10/2026).
Melalui utas di platform Threads, Ia mengurai kronologi sejak awal proses transaksi. Pada Sabtu (5/9/2026), Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) resmi diteken dengan total uang muka sekitar Rp128 juta. Serah terima unit akhirnya berlangsung pada Senin (5/10/2026).
Baca Juga:
Carro Masuk Bisnis Mobil Baru, Gandeng Omoda & Jaecoo
Siapa sangka, indikasi Geely EX2 bermasalah sudah mengintai pada pengisian daya (charging) pertama di SPKLU pada Kamis (8/10/2026) menggunakan voucher dari tenaga penjual, durasi pengisian daya dari 30 persen ke 85 persen, memakan waktu lebih dari satu jam, jauh lebih lambat dibanding mobil listrik lain di lokasi yang sama.
Puncaknya terjadi pada pengisian kedua, Minggu (11/10/2026). Di beberapa SPKLU berbeda, baterai yang tersisa 30 persen menolak keras untuk terisi. Bahkan saat mobil terparkir di rumah dengan sisa daya kritis 12 persen, portable charger bawaan pun sama sekali tak mempan.
Pada Senin (12/10/2026), mobil terpaksa diderek ke bengkel diler melalui layanan Emergency Road Assistant (ERA). Dari sinilah kerumitan teknis masalah mobil listrik ini makin terlihat:
Rabu (14/10/2026) diagnosis awal menduga port pengisian daya rusak dan harus diganti.
Kamis (15/10/2026), Pihak diler mengambil suku cadang langsung ke pusat agar tak menunggu sepekan, namun proses pengisian tetap gagal total.
Pada hari Jumat (16/10/2026) teknisi pusat turun tangan melakukan rekalibrasi, pembaruan perangkat lunak (software update), hingga coding ulang. Hasilnya? Nihil.
Diagnosis Akhir, baterai utama dinyatakan rusak dan harus diganti total. Hanya dalam kurun enam hari pemakaian, komponen paling vital pada kendaraan listrik tersebut sudah lumpuh. Bagi pemilik, ini jelas mengarah pada dugaan cacat bawaan produksi.
Namun, alih-alih mengganti dengan unit baru sesuai permintaan konsumen, diler justru bersikukuh menempuh Prosedur Operasional Standar (SOP) perbaikan bertahap.
Kondisi makin diperparah oleh ketiadaan solusi kompensasi yang nyata. Di saat cicilan terus berjalan tiap bulan, ia juga tidak mendapatkan fasilitas mobil pengganti. Merasa membeli mobil baru namun seolah memiliki kendaraan rekondisi, pemilik akhirnya mengambil langkah dengan melayangkan surat keluhan sekaligus Somasi Pertama pada Senin (19/10/2026).
Dalam somasi tersebut, diler diberi batas waktu 3x24 jam untuk memberikan ganti rugi berupa unit baru yang setara atau pengembalian dana (refund) secara penuh.
Utas yang diunggah pada Selasa (20/10/2026) hingga saat ini sudah mendapat 9 like lebih, dan 1000 komentar. Salag satu akun mendukung langkah yang diambil oleh pengunggah.
"Dirugikan bukan dari segi materil saja, tapobjuga waktu dan pikoran untuk case seperti ini" tulis akun @melin***.
Bahkan akun lain mengaku sudah memiliki niat untuk membeli mobil Geely, namun jadi ragu dengan ada case tersebut.
"Lagi mempertimbangkan untuk beli Geely, baca ini jadi bingung, sebagai konsumen jujur saya setuju dengan mbanya, ganti unit baru" Tulis akun akun @mommma***.
Langkah tegas ini diambil bukan semata untuk menuntut hak pribadi dan meminta purna jual yang bertanggung jawab dari produsen, melainkan juga sebagai peringatan tajam bagi calon pembeli kendaraan listrik lainnya agar lebih jeli dan waspada.