Raden Ahmad atau Sunan Tegalwangi masuk di kerajaan Blambangan di era antara Raja Blambangan Menak Sembar atau Mas Sembar akhir jabatannya atau di era Bima Koncar atau Menak koncar Raja Blambangan, karena ke ilmuannya dan juga karena cucu dari Menak Sembuyu Raja Blambangan Sunan Tegalwangi jadilah Temanggung Aning patih di kerajaan Blambangan dan karena pengaruhnya dan ke ilmuannya ajaran agama Islam semakin luas menyebar di wilayah Blambangan.
Hadiah tanah yang diberikan oleh Raja Blambangan Menak Sembuyu kepada Syekh Maulana Ishaq beralih semuanya kepadanya, dengan pengaruh dan keilmuannya beliau beserta putra dan santri-santrinya membantu Kerajaan Blambangan ke puncak kejayaan Blambangan dan lebih memperluas wilayahnya ke arah barat Blitar dan ke arah timur pulau Bali.
Baca Juga:
Ada Apa di Balik Pertemuan Trah Aning Patih dan Amir Ma’ruf Khan di Petilasan Selogiri?
Putranya yang bernama Syekh Maulana Hening dan santri-santrinya juga membantu dengan sistem operasi perdagangan melalui jalur perdagangan laut pelabuhan teluk Sendang Biru, pelabuhan wilayah Pugar, pelabuhan Ulu Panggang Muncar, pelabuhan Banyu Alit Rogojampi, pelabuhan Panarukan dan pelabuhan Besuki selain membantu pemerintahan kerajaan Blambangan.
Jadi walaupun keturunan kerajaan Blambangan Menak Sembuyu tidak menjadi raja akan tetapi beliau masih membantu pemerintahan menjadi Temanggung dan menjadi pemegang kekuasaan perdagangan terbesar, dan juga memiliki tanah warisan hadiah pertanian dan perkebunan se wilayah Blambangan.
Selain itu juga memiliki tanah perdikan atau tanah hadiah selogiri se wilayah Blambangan.
Baca Juga:
Nahdlatul Ulama: Agama, Akidah, dan Nasionalisme
Raden Paku atau Raden Joko Samudro atau Sunan Giri yang sudah menetap di Kedaton Giri karena Sunan Giri adalah pendiri Kerajaan Kedaton Giri di wilayah Gersik setelah rapat keluarga memberikan tugas khusus kepada putra ketiganya yang bernama Syekh Maulana Ahmad atau Raden Ahmad atau Syarif Ahmad Al-jailani atau Sunan Tegalwangi untuk melanjutkan perjuangan sang kakek siar agama Islam di wilayah Blambangan dan mewarisi semua hak yang secara sah didapatkan dan juga membantu kerajaan Blambangan yang akhirnya mempunyai gelar Temanggung Aning Patih.
Tersebarnya agama Islam di wilayah Blambangan berawal dari Syeh Maulana Ishaq dan dilanjutkan oleh cucunya yaitu Syeh Maulana Ahmad atau Temanggung Aning Patih bin Raden Paku atau Raden Joko Samudro atau Sunan Giri bersama putera dan anak-anak keturunannya serta bersama santri-santrinya sehingga ajaran agama Islam di wilayah Blambangan semakin berkembang luas.
Wilayah kerajaan Blambangan setelah perang Pareg-reg di tahun 1406 atau Wilayah kerajaan Blambangan di era Raja Menak Sembuyu ujung baratnya perbatasan Malang Blitar, jadi Malang, Porong, Ngantang sampai ke Utara Laut Jawa dan ke Selatan Samudra Indonesia dan ke Timur Selat Bali masuk wilayah kekuasaannya.