METROJAKARTANEWS.ID, Jakarta | Di balik padatnya aktivitas sebagai dokter spesialis, Zuhria Novianty menyimpan ruang personal yang tak tergantikan, dunia keterampilan tangan yang telah ia tekuni sejak kecil.
Kecintaan terhadap kerajinan tumbuh dari lingkungan keluarga yang sarat aktivitas kreatif. Sejak dini, Zuhria telah terbiasa mengeksplorasi berbagai bentuk karya, mulai dari membuat paper bag, menjahit, hingga merajut.
Baca Juga:
Kemenkes Buka 150 Prodi Spesialis untuk Pemerataan Dokter di 514 Kabupaten/Kota
Keterbatasan akses belajar kala itu justru membentuk kemandirian serta rasa ingin tahu yang kuat dalam dirinya.
Memasuki jenjang pendidikan tinggi, minatnya pada dunia mode dan kreativitas sempat menguat. Namun, pilihan hidup membawanya menapaki dunia kedokteran, sebuah jalan yang menuntut dedikasi penuh dan menjadi fondasi karier profesionalnya di bidang medis.
Seiring perjalanan waktu, peran Zuhria pun bertambah. Selain berkarier sebagai dokter, ia juga menjalani peran sebagai istri dari Benu Supriyantoko serta seorang ibu.
Baca Juga:
Prabowo Serukan Reformasi Besar Layanan Kesehatan, Fokus Cetak Dokter Spesialis
Kesibukan yang kian padat membuat ruang untuk menyalurkan hobi perlahan menyempit, bahkan sempat terabaikan.
Aneka macam barang hasil rajutan dokter Zuhria, pengisi waktu luang di tengah kesibukan dan tanggung jawab utama sebagai dokter spesialis, seorang istei dan ibu.
Titik balik terjadi setelah ia menyelesaikan pendidikan spesialis. Dalam upaya mencari keseimbangan hidup, Zuhria kembali menekuni hobi lamanya dan menjatuhkan pilihan pada merajut, aktivitas yang dinilainya sederhana, fleksibel, serta dapat dilakukan di sela kesibukan tanpa mengganggu tanggung jawab utama.
Bagi Zuhria, merajut bukan sekadar pengisi waktu luang. Ia menemukan ketenangan dalam setiap simpul benang yang dirangkai, sekaligus kepuasan saat karya perlahan terbentuk dari proses yang tekun dan konsisten.
Pengalaman tersebut menjadi refleksi bahwa passion yang tumbuh sejak kecil tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali hadir, memberi makna sekaligus menjaga keseimbangan di tengah dinamika kehidupan yang terus berjalan.
[Editor : Sahala Pangaribuan]